JakVR - Virtual Reality Guide

3 Tantangan Realisasi Proyek Mobil Nasional

Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh saat mendapatkan penjelasan dari Tim Mobil listrik karya mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, yang diberi nama EC ITS saat diluncurkan di Gedung Rektorat ITS, Surabaya, Sabtu (26/1). Mobil listrik jenis city car ini berkapasitas 4 penumpang dengan kecepatan 80 km/jam dengan spesifikasi range 100 km/charge dan DC motor 2o kW. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Jakarta – Pengamat otomotif, Suhari Sargo, mengatakan bahwa industri otomotif Indonesia menghadapi tiga tantangan serius jika akan merealisasikan program mobil nasional. “Faktor pendanaan, kesiapan industri penunjang, dan kualitas sumber daya manusia yang harus diatasi terlebih dahulu jika Indonesia ingin memiliki mobil nasional,” ujarnya saat dihubungi Tempo pada Ahad, 29 Juni 2014.

Menurut Suhari, faktor pendanaan memegang peranan kunci terwujudnya mobil nasional. “Pabrikan otomotif seperti Toyota, Ford, Suzuki, atau pun Honda harus menginvestasikan setidaknya US$ 2,5 miliar dan waktu sampai 2 tahun untuk mendesain satu model mobil terbaru,” ia menjelaskan. Besarnya dana investasi tersebut, kata ia, membuat pemerintah maupun investor masih ragu untuk menjajaki pembuatan mobil nasional.

Selain itu, infrastruktur penunjang industri otomotif di Indonesia juga masih belum siap. Industri otomotif, Suhardi menjelaskan, memerlukan sedikitnya 8 ribu komponen yang harus dipenuhi dari industri penunjang. “Realitas hari ini menunjukkan industri penunjang seperti pabrik plat baja atau pabrik ban di Indonesia masih ragu untuk mendukung program mobil nasional,” kata ia. Keraguan itu didasari oleh kecilnya peluang bisnis dari program mobil nasional.

Adapun, faktor ketiga ialah kesiapan sumber daya manusia di bidang otomotif yang belum terampil. “Industri otomotif tidak sekadar membutuhkan tenaga terampil yang bisa merakit komponen, tapi menuntut adanya insinyur mesin, desain, dan elektro yang punya pengalaman dan pendidikan setingkat master atau doktoral,” tuturnya.

Maka dari itu, Suhari mengatakan jika pemerintah serius dalam menjajaki terwujudnya mobil nasional maka faktor pendanaan dan investasi harus menjadi prioritas. “Apabila dana sudah ada, maka hal itu bisa dialokasikan untuk membangun infrastruktur penunjang, mengirim insinyur otomotif untuk studi lanjut, dan melakukan riset pra produksi,”katanya.

RAYMUNDUS RIKANG R.W
Berita Terpopuler:
Ramadan, Omzet Pasar Tradisional Naik 20 Persen
Polisi Usut Intimidasi Terhadap Kader Demokrat
Ibunda Menteri Armida tutup Usia
MU Resmi Lepas Buttner ke Dynamo Moscow


tempo

guegamersBerita & PolitikGedung Rektorat,Indonesia,Nopember Surabaya,TEMPO,US
Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh saat mendapatkan penjelasan dari Tim Mobil listrik karya mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, yang diberi nama EC ITS saat diluncurkan di Gedung Rektorat ITS, Surabaya, Sabtu (26/1). Mobil listrik jenis city car ini berkapasitas 4 penumpang dengan kecepatan 80 km/jam dengan spesifikasi range...

Comments

comments