JakVR - Virtual Reality Guide

Pasien penyakit hati langka, Muhammad Sayid Hafidz (VIVAnews/Amal Nur Ngazis)

Pasien penyakit hati langka, Muhammad Sayid Hafidz (VIVAnews/Amal Nur Ngazis)

VIVAlife – Penderita penyakit hati langka usia 8 tahun, Muhammad Sayid Hafidz, berhasil menjalani operasi transplantasi hati di Rumah Sakit Permatamedika Sentul City pada Senin 24 Febuari lalu, dengan pasien usia 8 tahun,

Hafidz menderita menyakit hati langka, Allegile Syndrome Pro Transplantasi Liver. Sindrom ini disebabkan adanya kerusakan saluran antara hati menuju kantung empedu.

“Operasi butuh waktu kurang lebih 15 jam mulai pukul 09.00 hingga 23.30,” ujar dr Kamelia Faisal, Direktur RS Permatamedika Sentul City, yang juga salah satu tim dokter operasi transplantasi hati Hafidz, Minggu 2 Maret 2014.

Hafidz menempuh jalan panjang untuk naik ke meja operasi. Sejak lahir, Hafidz sudah mengalami cacat fisik. Saat dalam kandungan, ia terdeteksi mengalami kelainan jantung dan saat terlahir, dia buang air kecil dengan warna putih, akibat kelainan pada hatinya.

Selain itu, kerusakan pada saluran hati itu juga mengakibatkan kelainan pada tulang. Sebab vitamin A,D,E,K tak terserap pada kantung empedu. Kondisi ini mengakibatkan pertumbuhan Hafidz melambat, tak secepat anak seusianya.

Kamelia menambahkan kesuksesan operasi ini salah satunya berkat supervisi ahli transplantasi dunia Kobe International Frontier Medical Center (KIFMC) Jepang, Prof Koichi Tanaka.

Untuk diketahui Tanaka merupakan guru dari dokter transplantasi hati Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang menjalani operasi cangkok hati di Tiongkok beberapa tahun lalu.

Kamelia mengatakan dalam operasi, hati Hafidz dibuang dan diganti dengan hati dari sang ayahanda, Sugeng Kartika. Hati Sugeng hanya diambil sepertiga saja mengingat Hafidz masih berusia kecil.

Saat ditunjukkan dalam rekaman video operasi, hati Hafidz telah menghitam. Sedangkan hati sang ayahanda masih terlihat segar.

Untuk mengganti hati Hafidz, biaya yang harus dikeluarkan Rp 1,6 miliar, yang meliputi pemeriksaan pendonor hati, cek darah, pengiriman sampel sel darah putih ke laboratorium di Amerika Serikat hingga operasi.

Namun, Kamelia menambahkan biaya kamar selama dirawat di rumah sakit sudah digratiskan.

“Biaya ini termasuk lebih murah jika dibandingkan dengan operasi transplantasi hati di Singapura yang mencapai 2,5 hingga 4 miliar,” ujar Kamelia.

Ia bersyukur dengan kesuksesan ini, dan menyatakan RS Permatamedika Sentul City akan terus berkomitmen menjadi rumah sakit pusat transplantasi hati.

Untuk sementara ini, kata dia, para dokter ahli transplantasi hati rumah sakit milik Pertamina itu akan menjalani transfer of knowledge dari ahli transplantasi hati dunia, yang akan mensupervisi setiap operasi. Selain itu, untuk bisa menjalankan operasi tranplantasi hati secara mandiri, tim dokter ahli rumah sakit itu akan meningkatkan jam terbang.

“Kami masih terus mengundang supervisi untuk nantinya mengoperasi 100-200 pasien. Baru setelah jam terbang ditingkatkan, kami bisa mandiri,” kata Kamelia. (umi)


viva

guegamersBerita & PolitikAmal Nur Ngazis,Kobe International Frontier Medical Center,Muhammad Sayid Hafidz,Permatamedika Sentul City,RS
Pasien penyakit hati langka, Muhammad Sayid Hafidz (VIVAnews/Amal Nur Ngazis) Pasien penyakit hati langka, Muhammad Sayid Hafidz (VIVAnews/Amal Nur Ngazis) VIVAlife - Penderita penyakit hati langka usia 8 tahun, Muhammad Sayid Hafidz, berhasil menjalani operasi transplantasi hati di Rumah Sakit Permatamedika Sentul City pada Senin 24 Febuari lalu, dengan pasien usia...

Comments

comments