JakVR - Virtual Reality Guide

Sejumlah radio antik dipamerkan dalam pameran bertajuk “Layang Swara” di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/9/2014). (VIVAlife/Fajar Sodiq)

Sejumlah radio antik dipamerkan dalam pameran bertajuk “Layang Swara” di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/9/2014). (VIVAlife/Fajar Sodiq)

VIVAlife – Tak bisa dipungkiri bahwa eksistensi radio dalam perkembangan media elektronik hingga kini masih dibutuhkan. Sayangnya, gempuran teknologi broadcast yang massif membuat keberadaan radio perlahan terlupakan. Radio yang dulunya mengambil peranan penting di era kemerdekaan, tergantikan media dengan banyak platform.

Meski demikian, tetap menjadi aktivitas menarik, untuk kembali bernostalgia melihat radio-radio antik. Seperti yang terlihat dalam pameran radio jadul bertajuk Layang Swara, di Bentara Budaya, Balai Soedjatmoko, Solo. Puluhan radio masa lampai zaman Hindia Belanda terpampang rapi di sana.

Mayoritas radio berukuran jumbo itu, terbuat dari bahan kayu. Beragam merek radio zaman Hindia Belanda sengaja dipajang, untuk menggelitik rasa penasaran pengunjung untuk bertanya pada kurator pameran. Di antara puluhan radio yang terpajang, ada radio Philips Gatotkaca dari Belanda, koleksi Iwan Gandjar. Ada pula merek Normende tahun 1952 koleksi Hermanu. Namun yang tak kalah keren, adalah radio merek Tesli 616 dari Cheko, koleksi Didi Sumarsidi.

Tak hanya itu, dipajang pula gramaphone Parlophone produksi 1928, dari Swis koleksi Iwan Ganjar Indrawan. Sebuah koleksi paling kuno di antara benda yang lain. Hermanu, salah satu kolektor sekaligus panitia dalam pameran ini menjelaskan, ada lebih dari 50 koleksi radio lawas dipamerkan.

Eksebisi ini melibatkan kelompok audio Yogyakarta Padmaditya, dan beberapa kolektor radio dari Magelang, Semarang, dan Yogyakarta. “Pameran radio jadul dengan tema Layang Swara ini, merupakan yang kedua setelah 15 tahun kita buat. Tema Layang Swara, berarti bunyi berita yang selalu hadir dalam siaran radio, ” ujar Hermanu, saat ditemui Rabu, 24 September 2014.

Diakuinya, banyak cerita di balik setiap siaran radio. Misalnya, kisah bagaimana radio menyebarkan semangat perjuangan dari pidato Bung Tomo. Selain itu, ada pula pidato Bung Karno di hari kemerdekaan. “Melalui pameran ini, kami ingin menunjukkan betapa penting keberadaan radio pada zaman revolusi,” tutup kolektor itu.

Lihat foto-fotonya di tautan ini.


viva

guegamersSelebritisBalai Soedjatmoko,Fajar Sodiq,FOTO,Hindia Belanda,Layang Swara
Sejumlah radio antik dipamerkan dalam pameran bertajuk 'Layang Swara' di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/9/2014). (VIVAlife/Fajar Sodiq) Sejumlah radio antik dipamerkan dalam pameran bertajuk 'Layang Swara' di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/9/2014). (VIVAlife/Fajar Sodiq) VIVAlife - Tak bisa dipungkiri bahwa eksistensi radio dalam perkembangan media elektronik hingga...

Comments

comments