JakVR - Virtual Reality Guide

Bunga tumbuh di dalam Hutan Kota Srengseng. (Dok. Ardha Prasetya)

Bunga tumbuh di dalam Hutan Kota Srengseng. (Dok. Ardha Prasetya)

VIVAlife – Sore itu jalanan Jakarta sesak dengan kendaraan. Tunggangan roda empat dan roda dua silih berganti menguasai “aspal” Ibukota. Di tengah deru mesin kendaraan dan riuh klakson, asap dari knalpot membumbung tinggi ke udara. Terhirup oleh pekerja kantor yang hilir mudik di trotoar jalan.

Gambaran ini bisa ditemui nyaris setiap harinya di Jakarta. Kota yang memiliki status setingkat provinsi ini begitu identik dengan kemacetan dan polusi. Soal kemacetan Jakarta tersebut bahkan ditulis blogger asing bernama Andre Vltchek dan ramai dibahas di media sosial.

Tapi mari lupakan sejenak soal kesemrawutan Jakarta. Di tengah deretan gedung pencakar langit dan rumah-rumah kumuh, terselip sejumlah  tempat yang penuh dengan kedamaian. Tempat-tempat ini disebut dengan taman dan hutan kota.

Masyarakat pasti mengenal Taman Suropati yang tidak pernah sepi dengan aktivitas olahraganya. Atau Taman Monas yang luas dan selalu jadi langganan berbagai acara musik dan event besar. Apabila Monas dan Suropati masih terlalu ramai, Jakarta juga punya banyak taman yang masih “perawan”.

Susuri  taman-taman di bawah ini, membuat Anda seolah sedang tak berada di Jakarta. Tak ada kepenatan dan polusi kendaraan. Sebaliknya, kesejukan dan kesunyian membawa Anda dekat dengan alam.

Taman Cattleya

Taman Cattleya

Taman Cattleya sebelumnya merupakan pemukiman kumuh. Foto: Dok. Ardha Prasetya

Jalan S.Parman, Tomang, tidak pernah sepi dengan lalu lalang kendaraan.  Penuh dengan mobil dan motor yang menuju arah tol Tomang dan ruas jalan arah Grogol. Dengan kecepatan kendaraan sekitar 80 kilometer per jam, tak akan ada banyak orang yang tahu bahwa mereka sedang melintasi sebuah taman yang asri dan cantik.

Tepat di sisi jalan Tol Tomang, sebuah gerbang bertuliskan Taman Cattleya sebenarnya tampak cukup jelas. Dari gerbang yang terbuka lebar tanpa pagar, nuansa hijau dan sejuk sudah mulai terasa. Saat mulai melangkahkan kaki ke dalam, pohon-pohon cemara yang rindang menyambut di kanan dan kiri jalan.

Ruang terbuka hijau seluas 31.945 meter persegi ini dipenuhi dengan tanaman hias seluas 790 meter persegi. Saat baru saja memarkirkan kendaraan, bangku-bangku taman sudah tampak berjejer rapi menyambut perjalanan menuju danau yang luas.

Anda mungkin masih ingat dengan penggusuran yang terjadi di awal tahun 2000-an. Taman ini awalnya memang merupakan sebuah pemukiman kumuh padat penduduk yang akhirnya dibebaskan secara bertahap mulai tahun 2001 hingga 2002.

Rumah-rumah kumuh itu pun berubah menjadi sebuah taman cantik yang asri dan sejuk di tahun 2006. Dikenal dengan nama Taman Kampung Sawah.

“Ini awalnya wilayah persawahan, makanya namanya kampung sawah. Lalu penduduk mulai membangun rumah secara liar. Sampai pemerintah DKI melirik tempat itu bagus untuk ruang terbuka hijau maka dibebaskan di tahun 2001,” ujar Ka.Sie Taman Kota dan Lingkungan, Fajar Sauri, kepada VIVAlife.

Desain taman dibuat melalui sayembara yang diadakan oleh pemerintah DKI. Sebelum menjadi Taman Cattleya, taman ini rencananya akan di bangun sebagai Taman ASEAN oleh pemenang sayembara.

Simbol ASEAN pun rencananya akan diletakkan di tengah-tengah tanaman hias yang dibentuk kotak di bagian kanan taman. Namun rencana itu belum juga terealisasi hingga saat ini.

Pohon trembesi yang berada di beberapa sudut dan tengah taman bisa jadi pilihan tempat yang nyaman saat ingin menikmati kesejukan. Menghabiskan waktu bersandar di bawah pohon sambil membaca buku atau sekadar piknik bersama keluarga, tak akan membuat Anda merasakan teriknya matahari. Sebab, suhu udara akan turun hingga 4 derajat celsius saat berlindung di bawahnya.

Bukan hanya trembesi, Taman Cattleya memiliki 948 pohon dan tanaman hias yang mampu melindungi diri dari teriknya sinar matahari dan asap polusi kendaraan. Sebut saja beringin, jacaranda, kecrutan, yangliu dan glodogan tian.

Langkahkan kaki lebih jauh, Anda akan melihat puluhan kupu-kupu cantik beterbangan di sekitar bunga warna-warni. Tidak jauh dari tempat itu, sebuah danau besar dan tenang jadi tempat favorit warga sekitar untuk memancing meski warna air tak lagi jernih.

Dari gerbang, berbeloklah ke arah kanan. Tanaman hias dengan desain kotak-kotak berwarna ungu dan hijau terlihat cantik dengan latar belakang gedung-gedung tinggi dan jalan tol. Jika dilihat dari desainnya dan latar belakang yang indah, tempat ini yang mungkin membuat para produser tertarik untuk memproduksi film mereka.

“Banyak sekali teman-teman dari film yang pakai taman ini. Bukan hanya film, beberapa acara televisi dan iklan pun pernah menggunakan taman ini,” ujar Fajar.

Sayang, beberapa tempat terlihat tidak terawat. Lihat saja tembok yang penuh dengan coretan di jembatan yang berdekatan dengan danau.

Jembatan kayu itu pun sudah tampak rusak dan bolong di beberapa bagian. Padahal, Fajar mengatakan bahwa perbaikan dan renovasi taman di lakukan cukup sering untuk menjaga kualitas dan keindahan taman.

Taman Langsat

Taman Barito

Taman Langsat awalnya hanyalah ruang terbuka hijau yang dipenuhi dengan pepohonan dan rumput-rumput liar. Foto: Dok. Ardha Prasetya

Bagi para pencinta hewan, jalan Barito, Jakarta Selatan pasti bukan tempat yang asing. Pedagang-pedagang kaki lima penjual hewan, berjejer rapi di sepanjang jalan itu.

Tidak jauh dari tempat tersebut, Taman Ayodya berdiri dengan cantik. Sejak diresmikan tahun 2009 lalu, Taman Ayodya menjadi salah satu tempat favorit warga untuk menghabiskan waktu senggang.

Bagi sebagian orang, Taman Ayodya mungkin menjadi satu-satunya taman yang berada di Jalan Barito. Tak banyak yang tahu bahwa dibalik kios-kios pedagang hewan dan buah di kawasan itu, terhampar taman luas yang tenang dan asri.

“Dahulu kan pedagang hewan itu nggak berjualan di situ. Tadinya di Taman Ayodya. Setelah Ayodya dibuka, para pedagang ini minta tempat berjualan yang nggak meninggalkan sejarahnya,” ujar Fajar.

Diakui Fajar, Taman Langsat awalnya hanyalah ruang terbuka hijau yang dipenuhi dengan pepohonan dan rumput-rumput liar. Hingga sekitar tahun 2000-an, pembangunan taman mulai dilakukan secara bertahap.

Mulai dari jogging track hingga batu-batu refleksi yang digunakan sebagai sarana olahraga. Tapi fasilitas tersebut tak juga membuat taman ini dikenal orang, hingga akhirnya tertutup oleh kios-kios hewan tersebut.

Untuk menunjukkan keberadaan Taman Langsat, pemerintah DKI akhirnya membuka sebagian wilayah taman untuk digabungkan dengan konsep Taman Ayodya di tahun 2012. Pilar-pilar yang berada di Taman Ayodya, seolah menjadi pintu gerbang untuk menuju Taman Langsat. Berbagai fasilitas permainan anak pun diletakkan di taman tersebut.

Ingin mencari tempat yang lebih nyaman? Berjalanlah lebih dalam. Anda akan disambut rumput hijau dan pohon tinggi yang memanjakan mata dan pikiran.

Seluruh penat, seolah hilang saat menyusuri taman ini. Bagaimana tidak, pandangan mata terus dimanjakan dengan tanaman hias seluas 118,91 meter persegi. Ada juga danau yang dipenuhi dengan teratai-teratai cantik dan tumbuhan air lainnya.

Keindahan taman ini, menjadikannya sebagai lokasi favorit para fotografer untuk melakukan berbagai pemotretan. Berbagai sudutnya mampu menghasilkan gambar yang menarik. Mulai dari kursi-kursi taman yang diletakkan di pinggir danau, atau kursi yang berada di tengah taman dengan pagar putih sebagai penghias, pohon-pohon, hingga pembatas di area refleksi.

Tak hanya itu, kesejukan yang didapat dari 818 pohon yang tersebar di taman ini,  juga membuatnya menjadi tempat favorit komunitas yoga saat membutuhkan konsentrasi dan suasana tenang di tengah-tengah keramaian Ibu Kota. Taman Langsat bahkan menjadi pilihan para lansia untuk menghabiskan waktu luang menikmati hari tua dan berolahraga.

“Karena banyaknya lansia yang datang ke taman ini, masyarakat sekitar mengenal taman ini sebagai taman lansia,” ucap Fajar.

Taman Tebet

Taman Tebet

Taman Tebet sesungguhnya adalah salah satu taman paling luas yang berada di Jakarta. Foto: Dok. Ardha Prasetya

Rerumputan hijau dan pohon-pohon rindang, tergelar luas di sepanjang Jalan Tebet Timur Raya dan Tebet Barat Raya. Dibagi menjadi dua sisi dan terpisah oleh jalan raya, Taman Tebet awalnya hanyalah ruang terbuka hijau yang ditumbuhi banyak pohon yang tidak teratur dan tidak terawat. Hingga pemerintah DKI Jakarta membangunnya sebagai taman interaktif dan olahraga bagi para warga.

Sama seperti Taman Cattleya, sisi utara Taman Tebet didesain berdasarkan hasil sayembara pada tahun 2008. Pembangunan taman pun bekerja sama dengan sebuah perusahaan otomotif. Program CSR sebenarnya hanya berlangsung selama satu tahun, namun warga sekitar masih mengenalnya dengan nama Taman Tebet Honda.

Memasuki gerbang taman, Anda akan disambut dengan pohon-pohon rindang di berbagai sisinya, berjajar rapi bersama fasilitas fitness sederhana. Kelilingi taman searah jarum jam, Anda akan menemukan tempat bermain untuk anak, kursi-kursi taman yang berjejer rapi di tengah-tengah pepohonan di sisi taman, area olahraga yang luas hingga lapangan sepak bola.

Melihat taman ini, Anda mungkin teringat dengan Taman Menteng atau Taman Suropati yang berada di wilayah Jakarta Pusat. Desainnya memang dibuat untuk memberikan fasilitas olahraga dan berkumpul para komunitas olahraga dan seni. Setidaknya beberapa komunitas yoga, teater dan skateboard kerap menghabiskan waktunya di taman ini.

Merasa tempat ini terlalu ramai untuk menenangkan diri? Menyeberanglah ke taman di sisi selatan. Anda akan merasakan hawa yang lebih sejuk, asri dan tenang. Sebagai kebun bibit, Taman ini dipenuhi lebih banyak pohon dibanding taman di sisi utara. Hanya dilengkapi dengan jogging track, taman di sisi selatan ini menjadi tempat menyenangkan saat ingin melepaskan beban dan kepenatan setelah bekerja.

Secara keseluruhan, Taman Tebet memiliki luas hingga 69.654 meter persegi dengan tanaman hias yang mempercantik area taman dengan luas 2.743 meter persegi. Sekitar 1.551 pohon leda, ketapang kencana, mahoni, khaya, beringin, kelapa sawit, trembesi dan flamboyan berdiri tegak melindungi diri dari sengatan sinar matahari dan polusi udara Jakarta.

Taman di sisi selatan juga menjadi lokasi favorit para lansia untuk menikmati udara segar dan menghabiskan waktu senggang di hari tua. Selain karena lokasinya yang tenang, jalur berbatu di taman ini juga cocok digunakan untuk terapi. Para penggila fotografi pun kerap menjadikan taman ini sebagai lokasi pemotretan.

“Sebenarnya Taman Tebet ini salah satu taman paling luas yang berada di Jakarta. Jika tidak ada gedung dan rumah-rumah penduduk, taman ini luasnya sampai warung warmo,” ujar Fajar.

Hutan Kota Srengseng

Hutan Kota Srengseng

Di tengah-tengah Hutan Kota Srengseng, Anda akan menemukan danau buatan yang cukup luas. Foto: Ardha Prasetya

Bagai oase di padang pasir, kehadiran hutan kota terasa begitu menyejukkan. Tak akan ada yang menyangka jika di wilayah Jakarta yang padat dan penuh dengan bangunan, masih tersimpan beberapa hutan kota.

Di dalamnya, Anda bisa merasakan udara sejuk dan oksigen bersih yang mungkin jarang ditemukan jika menyusuri jalan-jalan protokol.
Cobalah susuri Jalan Kelik Kembangan, Srengseng, Jakarta Barat dengan perlahan.

Di tengah-tengah rumah penduduk dan beberapa bangunan kantor, terhampar ribuan pohon yang rimbun dan sejuk. Tidak banyak orang yang tahu, bahwa lokasi yang tadinya merupakan tempat pembuangan sampah ini kini bermetamorfosis menjadi hutan kota yang hijau. Peradaban pun perlahan bersemi di sana.

Hutan Kota Srengseng namanya. Pepohonan hijau yang tumbuh di dalamnya, menjanjikan suasana yang asri, tenang dan nyaman. Untuk masuk ke tempat ini, Anda akan dikenakan biaya sekitar Rp3 ribu. Harga tersebut tak akan berarti, saat mulai melewati pintu gerbang. Disambut dengan taman bermain anak dan warung-warung kecil, hutan ini jadi pilihan wisata murah keluarga.

Telusuri hutan lebih dalam, aneka tanaman seperti matoa, sawo kecik, saga, bintaro, bungur, jacaranda, dan sengon, tumbuh lebat menyelimuti kota Jakarta. Layaknya sebuah hutan, Anda akan melihat beberapa pohon yang mulai tua dan rapuh, daun-daun yang berguguran, dan semak belukar yang tumbuh liar di sela-sela pepohonan.

Jika beruntung, Anda bisa melihat bunga-bunga cantik yang tumbuh di antara pepohonan lebat, burung-burung kecil dan kupu-kupu cantik yang hinggap kesana kemari. 

Di tengah-tengah hutan, Anda akan menemukan danau buatan yang cukup luas. Danau tersebut kerap menjadi lokasi memancing warga sekitar. Tidak jauh dari danau, terdapat fasilitas bagi Anda yang gemar melakukan wall climbing. Sayang, alat tersebut tampak tidak terawat dan rusak di beberapa bagian.

Meski demikian, keberadaan hutan srengseng mampu memberikan ketenangan saat ingin melepas penat di tengah hiruk pikuk kota. Lokasinya yang asri dan sejuk, menjadi salah satu tempat andalan untuk menghabiskan waktu senggang sambil membaca atau sekadar memancing.


viva

guegamersBerita & PolitikArdha Prasetya,Taman Ayodya,Taman Cattleya,Taman Langsat,Taman Tebet
Bunga tumbuh di dalam Hutan Kota Srengseng. (Dok. Ardha Prasetya) Bunga tumbuh di dalam Hutan Kota Srengseng. (Dok. Ardha Prasetya) VIVAlife – Sore itu jalanan Jakarta sesak dengan kendaraan. Tunggangan roda empat dan roda dua silih berganti menguasai “aspal” Ibukota. Di tengah deru mesin kendaraan dan riuh klakson, asap dari knalpot...

Comments

comments