JakVR - Virtual Reality Guide

Another Egg No, sajian cokelat khas Indonesia di Pipiltin Cocoa Factory & Cafe. (VIVAnews/Riska Herliafifah)

Another Egg No, sajian cokelat khas Indonesia di Pipiltin Cocoa Factory & Cafe. (VIVAnews/Riska Herliafifah)

Menikmati Manis Cokelat Asli Indonesia

VIVAlife – Dari balik jendela kaca, terlihat beberapa orang sedang berkutat dengan beberapa mesin di bangunan berlantai tiga di bilangan Barito, Jakarta Selatan. Pipiltin Cocoa Factory & Cafe, begitu pelang nama yang dipasang di depan pintunya. 

Rasa penasaran langsung muncul, barang apa yang dijual tempat ini. Begitu masuk, mata pun disambut oleh sebuah tangga mengantar ke lantai dua. Di balik tangga itu terlihat sejumlah orang sibuk di balik sejumlah mesin.

Tiba di lantai dua, terdapat pemandangan menarik berupa deretan cokelat berpenampilan cantik. Sejumlah pengunjung tampak duduk di kursi kayu, sedang menunggu pesanan. 

Ya, ternyata Pipiltin Cocoa Factory & Cafe adalah sebuah tempat yang memanjakan warga Jakarta yang menyukai cokelat maupun makanan penutup lainnya. Sementara itu, tempat penuh mesin yang terlihat di lantai satu adalah pabrik pembuatan cokelatnya.

Menu Dark Chocolate Waffle dari Pipiltin Cocoa Factory & Cafe.

Menu Dark Chocolate Waffle dari Pipiltin Cocoa Factory & Cafe.|FOTO: VIVAnews/Riska Herliafifah

Dari lantai dua, para pengunjung bisa langsung melihat proses pembuatan cokelat, dari mulai proses roasting (pembakaran untuk mengeluarkan rasa pada biji kakao), winnowing (memisahkan cangkang dengan inti biji cokelat), grinding (menggiling biji dengan batu menjadi cairan cokelat), mixing (mencampur dengan bahan lain seperti gula dan susu), conching (mengaduk cokelat dalam waktu lama untuk menguapkan sebagian rasa asam), hingga diproses menjadi hidangan yang cantik lagi lezat.

Saat VIVAlife berkunjung, Pipiltin Cocoa Factory & Cafe di Barito, sedang dalam proses renovasi. Tapi, sang pemilik, Tissa Aunilla, memberitahu masih ada Pipiltin Cocoa Boutique & Cafe di bilangan Senopati, Jakarta Selatan.

“Di Barito konsepnya lebih ke dining experience cokelat, yang menggabungkan restoran dan pabrik pembuatan cokelat. Kalau di Senopati, lebih menjual retail. Makanya namanya cokelat butik, buat orang belanja cokelat,” kata Tissa.

Dia menjelaskan, usahanya berawal dari rasa prihatin melihat banyak orang mengasosiasikan cokelat dengan negara Eropa seperti Belgia, Prancis, dan Swiss.

“Saya lihat butik cokelat di Swiss yang menjual beragam cokelat bar. Cokelat-cokelat terbaik yang dipajang di etalase di bawah lampu mewah itu ternyata berasal dari Bali dan Jember. Saya jadi gemes banget liatnya,” cerita wanita yang dulu seorang pengacara ini.

Setelah mengambil gelar Master Chocolatier di Felchlin, Swiss, Tissa memutuskan untuk mengolah dan memperkenalkan cokelat-cokelat asli Indonesia pada masyarakat Indonesia. Ia membuka pabrik cokelat, lengkap dengan resto dan cafenya.

Sejak berdiri pada 7 Maret 2013, Pipiltin Cocoa, telah mengolah beragam biji cokelat asli Indonesia, yakni dari Tabanan, Bali, Pidie Jaya, Aceh hingga Banyuwangi.  

Meski dalam skala kecil, Pipiltin Cocoa, membeli biji kakao yang sudah difermentasi langsung oleh petani di daerah-daerah tersebut dengan harga bersaing. Hal ini, kata Tissa, dilakukan agar petani mau menjalin kerja sama dengan Pipiltin Cocoa.

“Kita mau buat cokelat terbaik yang tarafnya bisa disamakan dengan cokelat Belgia dan Swiss, karena mereka juga ambil cokelat dari Indonesia,” kata Tissa.

Setelah diolah di pabrik cokelat tersebut, tahap selanjutnya adalah membuat cokelat menjadi cokelat bar. Dari situ, jelas Tissa, bisa dihasilkan ratusan turunannya.

Dari cokelat bar ada cokelat praline, yakni cokelat dengan beragam isi seperti caramel, kacang-kacangan hingga green tea. Ada juga berbagai hidangan cokelat, baik cake maupun macaroons.

VIVAlife berkesempatan mencoba dua menu di Pipitlin, yakni “Another Egg No” dan “Dark Chocolate Waffle”.

“Another Egg No” adalah makanan penutup yang bentuknya mirip dengan telur rebus setengah matang. Tapi, ternyata itu adalah white chocolate panacotta dengan sirup mangga yang menyerupai kuning telur. Rasanya manis dan sedikit asam, terasa segar! Di pinggirnya terdapat chocolate chilli soil, seperti namanya, cokelat ini terasa agak pedas.

Sementara itu, “Dark Chocolate Waffle” memiliki rasa cokelat yang cukup kental. Namun, rasa ini dinetralisir dengan es krim vanilla di atasnya, sehingga menjadi lebih ringan. Hazelnut soil dan dark chocolate membuat waffle ini semakin cocok di lidah.

“Kita memang ingin memperkenalkan dessert dulu, karena Indonesia bukan negara pemakan cokelat, jadi kalau langsung cokelat bar takutnya orang susah nerimanya,” tambah Tissa.

Hidangan penuh cokelat yang lezat ini, dihargai dengan kisaran Rp13 ribu hingga Rp65 ribu. Tertarik menikmati cokelat asli Indonesia? Di sini tempatnya! (art)


viva

guegamersBerita & Politikcantik,Dark Chocolate Waffle,Indonesia,Pipiltin Cocoa,Riska Herliafifah
Another Egg No, sajian cokelat khas Indonesia di Pipiltin Cocoa Factory & Cafe. (VIVAnews/Riska Herliafifah) Another Egg No, sajian cokelat khas Indonesia di Pipiltin Cocoa Factory & Cafe. (VIVAnews/Riska Herliafifah) Menikmati Manis Cokelat Asli Indonesia VIVAlife - Dari balik jendela kaca, terlihat beberapa orang sedang berkutat dengan beberapa mesin di bangunan berlantai...

Comments

comments