JakVR - Virtual Reality Guide

Kunstkring atau ‘art circle’ pertama kali didirikan pada tahun 1914 sebagai tempat meleburnya berbagai hal yang berseni. (Qraved.com)

Kunstkring atau ‘art circle’ pertama kali didirikan pada tahun 1914 sebagai tempat meleburnya berbagai hal yang berseni. (Qraved.com)

VIVAlife – Wawancara eksklusif tentang Tugu Kunstkring oleh Qraved.com.

“Saya masih ingat waktu pertama kali saya berjalan masuk ke ruangan di lantai dua. Kosong, dan saya merasa terenyuh. Bagaimana mungkin kita mengabaikan bangunan seindah ini?”

Saat itu adalah kali pertama Anhar melihat Kunstkring. Tak pernah terbesit olehnya bahwa delapan tahun kemudian, dia memiliki kesempatan untuk duduk di dalamnya dengan kondisi bangunan yang telah diperbaiki dan diperbarui.

Kunstkring atau ‘art circle’ pertama kali didirikan pada tahun 1914 sebagai tempat meleburnya berbagai hal yang berseni. Sebagai tempat dimana para seniman Belanda berkumpul, menunjukkan hasil karya mereka mulai dari lukisan hingga pertunjukkan musik, dan mengadakan kelas seni.

Dalam pagelaran perdananya, dipamerkan lukisan bertaraf dunia seperti hasil karya Van Gogh dan Picasso. Seiring berjalannya waktu, bangunan ini mengalami masa yang pasang surut. Sempat digunakan sebagai kantor imigrasi dari tahun 1950 hingga 1993, kemudian terabaikan, dan menjadi kontroversi ketika dijadikan Buddha Bar.

Di tangan idealis Anhar, bangunan ini akhirnya kembali menghidupkan tujuan aslinya seperti yang seharusnya. Tugu Kunstkring kini sepenuhnya berfungsi sebagai tempat pameran seni lokal di Indonesia, pertunjukan seni, dan juga menjadi restoran khas Indonesia.

Pada 17 April 2013, tepat 99 tahun setelah pembukaan resminya pada tahun 1914, diresmikan oleh Jokowi, Gubernur DKI Jakarta. Sebuah tanda prestasi dan penghargaan yang Anhar dapatkan dan menjadi salah satu momen yang paling berkesan dalam hidupnya.

Sekarang, nampak jelas dua hal yang menjadikan bangunan ini tetap hidup: budaya dan makanan Indonesia. Menggabungkan keduanya dan membiarkan orang-orang melihat keindahan keduanya adalah passion Anhar. Hal ini juga yang menjadi benang merah dari beberapa tempat yang kemudian didirikannya, Dapur Babah, Lara Djonggrang, Shanghai Blue dan Kuntskring.

Masing-masing dari semuanya memiliki kisahnya yang menceritakan seputar sejarah Indonesia dan khususnya Jawa. Salah satu contoh nyata, ruang makan utama di Kunstkring bernama Pangeran Diponegoro di mana lukisan The Fall of Java digantungkan pada salah satu dinding. Lukisan sebesar 9×4 meter ini bercerita tentang kisah Diponegoro saat ditangkap pada tahun 1830 oleh Jenderal De Kock.

Atau ruangan lain bernama Multatuli yang menjadi nostalgia ketika Edward Douwes Dekker berkontribusi membantu Indonesia keluar dari rantai perbudakan. Gambar, foto, dan lukisan yang mewakili peristiwa sejarah digantungkan di seluruh ruangan.

Lebih dari itu, Anhar juga percaya bahwa kuliner Indonesia perlu dinilai sebagaimana mestinya, memiliki kualitas makanan yang baik, beragam, dan berkelas. Dia memberikan pernyataan yang kuat ketika pembukaan Dapur Babah pada tahun 2004. Di sana, harga seporsi dari nasi goreng itu dijual hingga 3 atau 4 kali lipat dari harga rata-rata.

Tidak peduli berapa banyak tanggapan kontradiktif yang ia dapatkan, Anhar tetap memiliki visi yang kuat bahwa makanan Indonesia layak dinilai dengan harga yang sepadan. Kegigihannya membuktikan keraguan dari segelintir orang. Anhar berhasil menyatukan sejarah, nilai seni, dan cita rasa makanan.

Di dalam Kuntskring, makanan disajikan dalam gaya Betawi Rijsstafel. Tak peduli jika Anda datang untuk makan sendirian, dengan pasangan atau berkelompok, makanan akan datang dalam Tenong besar yang mampu berisikan 12, 16, atau 24 menu berbeda sesuai dengan permintaan Anda.

Sebuah parade dengan setidaknya 12 pelayan mengenakan pakaian tradisional Betawi akan melayani Anda. Pengalaman otentik direkonstruksi seperti layaknya gaya bersantap ala Noni dan Tuan yang hidup pada era 1910-an.

Setelah hampir sepuluh tahun, sepertinya belum ada tanda-tanda Anhar untuk berhenti dan belum ada yang bisa menghentikan keinginan kuatnya untuk memberikan hasil terbaik dari budaya dan kuliner Indonesia ke ajang bergengsi. Fondasi dasar yang kuat di dalam kepalanya adalah ingin membawa kuliner Indonesia dikenal dan dihormati dalam peta kuliner dunia.

Bayangkan konsep yang sama seperti di jantung kota New York City. Tapi itu masih jalan yang panjang, ia lebih memilih untuk melakukan apa yang sekarang dia bisa, dan melihat kemana takdir akan membawanya.

Artikel ini bekerjasama dengan Qraved.com, situs booking restoran secara online pertama di Indonesia.


viva

guegamersBerita & PolitikDapur Babah,Edward Douwes Dekker,Indonesia,Jenderal De Kock,Lara Djonggrang,Pangeran Diponegoro,Tugu Kunstkring
Kunstkring atau ‘art circle’ pertama kali didirikan pada tahun 1914 sebagai tempat meleburnya berbagai hal yang berseni. (Qraved.com) Kunstkring atau ‘art circle’ pertama kali didirikan pada tahun 1914 sebagai tempat meleburnya berbagai hal yang berseni. (Qraved.com) VIVAlife - Wawancara eksklusif tentang Tugu Kunstkring oleh Qraved.com.“Saya masih ingat waktu pertama kali saya...

Comments

comments