JakVR - Virtual Reality Guide

Nanga Parbat. (Wikimedia)

Nanga Parbat. (Wikimedia)

VIVAlife – Bagi para pencinta petualangan ekstrem, adrenalin adalah candu. Semakin berbahaya medan yang harus dituju, semakin adrenalin terasah. Bermain dengan nyawa adalah hal yang biasa, karena saat tantangan berhasil dikalahkan, ada rasa bangga yang tidak bisa terganti.

Itulah yang membuat Nanga Parbat di utara Pakistan selalu memikat para pendaki. 

Padahal, atap tertinggi kedua di dunia setelah Gunung Everest itu, punya julukan sebagai “Gunung Pembunuh”. Tercatat 30 pendaki tewas saat berusaha menundukkan puncak setinggi 8.125 meter tersebut. 

Tidak hanya itu, pada 22 Juni 2013, terjadi insiden yang bisa membuat para pendaki mengurungkan niat mereka. Saat itu, sejumlah gerilyawan menyerbu para pendaki di base camp Nanga Parbat, menyeret para pendaki keluar dari tenda dan menembaki mereka sekaligus para pemandu hingga tewas. 

Peristiwa itu tentu memukul telak para pendaki dan pencinta gunung. Namun, daya pikat Nanga Parbat tidak ikut mati. 

“Nanga Parbat bukan sekadar gunung. Itu adalah dunia tersendiri untuk ditemukan dan dieksplorasi, planet asing yang terpisah dari Himalaya,” ujar Simone Moro, salah seorang pendaki yang gagal menaklukkan puncak Nanga. 

Menurut Moro, tantangan tersulit adalah melewati Rupal Face, tebing setinggi 4.000 meter yang menghalangi para pendaki mencapai puncak Nanga. 

“Rupal Face adalah tebing yang luar biasa. Seperti melihat sebuah dinding raksasa yang menghalangi Anda meraih mimpi, namun di saat yang sama, sangat menggoda untuk didaki,” lanjut Moro, dilansir Arab News. 

Gagal melewati Rupal Face tidak membuat Moro kapok. Malah dia berencana kembali menaklukkan tebing cadas tersebut. Dia juga berniat mengajak para pencinta gunung lainnya untuk ikut kembali meramaikan Nanga Parbat. 

“Insiden yang terjadi tahun lalu memang mengerikan, tapi kecelakaan bisa terjadi di mana saja dan bukan berarti akan terulang. Bagi saya, Nanga Parbat adalah tempat paling aman di Pakistan,” lanjutnya. 

Sayangnya, bukan hal mudah bagi para pencandu ketinggian untuk mengadu nyawa di Nanga Parbat. Masalahnya, mendapatkan visa masuk ke Pakistan adalah hal yang cukup sulit.

“Proses mendapatkan visa Pakistan bisa berlangsung selama 6-7 bulan. Saya harap pemerintah Pakistan bisa membuka pintu lebih lebar bagi turis,” ujar Moro. (art)


viva

guegamersBerita & PolitikMenurut Moro,Nanga Parbat,Pakistan,Rupal Face,Simone Moro
Nanga Parbat. (Wikimedia) Nanga Parbat. (Wikimedia) VIVAlife - Bagi para pencinta petualangan ekstrem, adrenalin adalah candu. Semakin berbahaya medan yang harus dituju, semakin adrenalin terasah. Bermain dengan nyawa adalah hal yang biasa, karena saat tantangan berhasil dikalahkan, ada rasa bangga yang tidak bisa terganti. Itulah yang membuat Nanga Parbat di utara Pakistan...

Comments

comments