JakVR - Virtual Reality Guide

Ilustrasi stroke. (iStock)

Ilustrasi stroke. (iStock)

VIVAlife – Hingga kini stroke masih dikenal sebagai silent killer. Hanya sedikit yang menyadari gejalanya. Tak heran jika tes pendeteksi stroke di beberapa kesempatan, amat diminati.

Tes itu mendeteksi stroke dengan memeriksa tumpukan lemak di pembuluh darah yang berisiko penyumbatan. Namun disarankan, orang yang sama sekali tidak punya gejala, tidak melakukannya.

Para ahli dari United States Preventive Services Task Force di Amerika menuturkan, tingkat akurasi tes itu masih perlu dipertanyakan. Biasanya, orang tanpa gejala pun tetap dinilai berisiko stroke.

Itu justru membahayakan. Sebab, mereka akan harus menjalani serangkaian perawatan yang sebenarnya tidak perlu. Bahaya seperti stenosis arteri karotis alias penyempitan arteri juga tinggi.

“Konsumen harus menyadari bahwa tes itu tidak mungkin mencegah stroke atau meningkatkan kesehatan mereka,” ujar Dr Larry B. Goldstein, ahli saraf di Duke University, Durham, North Carolina.

Namun, saran agar tak menjalani tes pendeteksi stroke itu tidak berlaku bagi mereka yang pernah mengalami stroke ringan maupun berat, atau gejala neurologis. Sedang pengujian lain seperti tes tekanan darah dan kolesterol, boleh dilakukan siapa saja.

Sumber: Fox News


viva

guegamersBerita & PolitikDr Larry,Duke University,Fox News,North Carolina
Ilustrasi stroke. (iStock) Ilustrasi stroke. (iStock) VIVAlife - Hingga kini stroke masih dikenal sebagai silent killer. Hanya sedikit yang menyadari gejalanya. Tak heran jika tes pendeteksi stroke di beberapa kesempatan, amat diminati.Tes itu mendeteksi stroke dengan memeriksa tumpukan lemak di pembuluh darah yang berisiko penyumbatan. Namun disarankan, orang yang sama sekali...

Comments

comments